Loading...

Senin, 25 Januari 2010

kalam ilahi

Kalam Ilahi

kalam-ilahi.jpgKajian tentang “Kalam Ilahi” merupakan salah satu pembahasan terpenting dalam teologi di sepanjang sejarah baik di antara penganut agama-agama samawi ataupun sesama umat Islam sendiri. Dengan memperhatikan bahwa wahyu merupakan sejenis pengalaman batin dimana semacam “dialog” antara Tuhan atau malaikat pembawa wahyu dengan para Nabi, dan dengan mengetahui mekanisme “dialog” ini akan berdampak sangat penting dalam memahami hakikat wahyu. Oleh karena itu, maka dianggap urgen untuk menjelaskan terlebih dahulu tentang “Kalam Ilahi”.
Tuhan Berkalam
“Tuhan berkalam” merupakan tema yang telah disepakati keberadaannya di antara para penganut agama-agama samawi. Para nabi memproklamirkan bahwa mereka berdialog dan berbicara dengan Tuhan dan Tuhan menyampaikan pesan untuk manusia. Para pengikut para nabi mengakui dan menerima proklamasi tersebut. Syekh Thusi menulis, “Tuhan berkalam dan berbicara adalah hal yang disepakati oleh seluruh umat Islam.”[1]
Qadhi ‘Adhidu al-Din juga menyatakan, “Para nabi sepakat bahwa Tuhan berkalam, berbicara dan berdialog dengan mereka.”[2]
Sayyid Ismail Thabarsi mengungkapkan, “Seluruh umat Islam bahkan seluruh penganut agama-agama samawi sepakat bahwa Tuhan berkalam dan berbicara.”[3]
Mulla Sadra menulis, “Para penganut agama-agama samawi sepakat bahwa Tuhan berkalam dan berbicara, karena mereka mengatakan bahwa Tuhan memerintahkan dan melarang suatu perbuatan tertentu, dan perintah dan larangan merupakan bagian dari kalam Ilahi.”[4]
Al-Quran sendiri dalam beberapa ayat menisbahkan suatu pembicaraan kepada Tuhan. Sebagai contoh, “Dan (Kami telah mengutus ) rasul-rasul yang sungguh-sungguh telah kami kisahkan tentang mereka kepadamu dahulu, dan rasul-rasul yang tidak kami kisahkan tentang mereka kepadamu. Dan Allah telah berbicara kepada Musa as secara langsung langsung.” (Qs. An-Nisa’: 164)
Dan dalam ayat lain disebutkan, “Rasul-rasul itu Kami lebihkan sebagian (dari) mereka atas sebagian yang lain. Di antara mereka ada yang Allah berkata-kata (secara langsung dengan dia) dan sebagiannya Allah meninggikan beberapa derajat.” (Qs. Al-Baqarah: 253).
Begitu pula pada ayat lain disebutkan, “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diberikan wahyu kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana.” (Qs. Syura: 51)
Di samping ayat-ayat yang telah kami sebutkan di atas, puluhan hadis secara jelas memaparkan bahwa Tuhan berkalam dan berbicara. Kata “al-Qaul” dan derivasinya dalam puluhan ayat dinisbahkan kepada Tuhan yang bermakna “berkata-kata” dan “berbicara”.
Demikian pula halnya kata “al-Amr” dan “an-nahyi” dan derivasinya dalam puluhan ayat dinisbahkan kepada Tuhan yang mengandung makna “berkalam” dan “berbicara”.
Oleh karena itu, “Tuhan berkalam dan berbicara” dengan para nabi adalah hal yang tidak bisa dipungkiri dan hal ini merupakan suatu kebenaran dari pengakuan para nabi dalam agama-agama samawi.
Wilayah Penggunaan “Kalam”
Kata “kalam” hadir dalam makna yang beragam dimana dengan mengkajinya bisa membantu mengungkap hakikatnya.
1. Kalam yang terucapkan
Kalam adalah suara dan huruf yang keluar dari mulut manusia yang memiliki makna khusus. Hubungan antara kata dan makna bukanlah bersifat esensial, akan tetapi dipengaruhi oleh ketetapan seseorang atau kesepakatan sekelompok masyarakat. Atas dasar inilah, suku-suku dan bangsa-bangsa berbicara dan bercakap dengan bahasa yang berbeda-beda. Pembicara (mutakallim) -dengan mengeluarkan suara dari tempat keluarnya huruf di bagian-bagian tertentu pada mulut – akan bercakap dengan kata dan makna khusus yang sebelumnya telah diterima, disepakati dan ditetapkan oleh seseorang atau sekelompok, dan mereka akan memceritakan maksud dan tujuan yang ada dalam pikirannya dengan perantaraan kata-kata tersebut. Oleh karena itu, kalam termasuk dalam kategori kualitas yang dapat “didengar”. Dalam filsafat, kategori ini berada dalam salah satu pembagian yang bersifat aksidental, yakni termasuk kategori kualitas dimana kategori kualitas itu terbagi kepada “yang didengar” dan “yang selain didengar”.
Kata yang terucapkan yang tercipta dengan perantaraan hembusan napas dan udara yang keluar secara berangsur-angsur dan setiap huruf dari kata yang terucapkan itu pasti didahului oleh suatu ketiadaan (yakni huruf yang diucapkan oleh pembicara itu baru akan terwujud setelah terucapkan). Oleh karena itu kata atau huruf yang terucapkan itu adalah bersifat hadis (atau lawan dari qadim, yakni perwujudan atau penciptaan yang didahului oleh ketiadaan).
Kalam dalam makna ini bukanlah sifat dari pembicara (mutakkalim), akan tetapi sesuatu yang tercipta melalui hembusan napas atau udara yang disebabkan dan diciptakan oleh pembicara, seperti halnya memukul dan membunuh, dan juga bukan sifat seperti ini ilmu, kodrat, hitam dan putih (yakni suatu sifat yang menempel dan mengaksiden pada sesuatu yang lain). Mutakallim adalah orang yang melakukan pembicaraan dan bukan memiliki sifat berbicara.
2. Kalam nafsi
Terkadang kalam disebut juga sebagai kalam nafsi yaitu suatu kalimat yang terucapkan dimana mengandung konsepsi, persepsi, perspektif dan gagasan pikiran mutakallim. Kelompok Asy’ariah yang pertama kali menggunakan jenis kalam nafsi ini ketika menjelaskan bahwa mutakallim sebelum berbicara telah memiliki makna dan konsep dalam pikirannya atas suatu kalimat yang ingin diucapkannya, kemudian dia mengucapkannya secara berangsur-angsur dan terciptalah kata dan kalimat itu. Dengan demikian, ia sadar apa yang ada dalam hati, jiwa dan pikirannya.
Pada pendapat Asy’ariah ini diajukan kritikan bahwa pemaknaan-pemaknaan (tashawwurat) dan penegasan-penegasan (tashdiqat) yang ada dalam pikiran kita tidak lain adalah ilmu[5] itu sendiri, dan selain ilmu tidak ada sesuatu yang lain sehingga bisa dikatakan sebagai kalam nafsi.
Asy’ariah dalam menjawab kritikan itu menyatakan bahwa kata-kata yang ada dalam pikiran kita itu bukanlah ilmu, karena terkadang manusia mengungkapkan bahwa dia tidak memiliki pengetahuan tentang hal itu, bahkan terkadang dia memberitakan sesuatu yang bertentangan dengan pengetahuan hakiki, oleh karena itu apa-apa yang ada dalam pikiran adalah kalam nafsi.
Kalam nafsi juga bukan hal-hal yang disukai dan hal-hal yang tidak disenangi, karena terkadang mutakkalim memerintahkan sesuatu yang dia sendiri tidak menginginkan terjadinya sesuatu itu tetapi tujuannya hanyalah menguji orang yang diperintah, ataukah dia melarang sesuatu yang dia sendiri tidak membenci larangan tersebut. Oleh karena itu, kalam nafsi tidak identik dengan ilmu, hal-hal yang disukai dan hal-hal yang tidak disenangi, akan tetapi sesuatu yang lain yang kemudian terkait dengan subyek dalam bentuk berita, perintah, larangan, pertanyaan, panggilan dan selainnya.[6]
Asy’ariah memandang bahwa kalam hakiki adalah kalam nafsi, dan dia memberikan solusi mengenai masalah kalam Ilahi dengan jalan ini. Kalam nafsi digolongkan bersifat qadim dan merupakan sifat-sifat yang berpijak pada Zat Tuhan.
Maktab Syiah Imamiah dan Muktazilah memandang kalam nafsi ini sebagai hal yang tidak logis dan kemudian mengungkapkan penolakannya sebagai berikut:
1. Kalam hakiki dalam pandangan umum dan linguistik tidak lain adalah suara-suara dan huruf-huruf yang terucapkan yang terwujud melalui hembusan udara dengan perantaraan mutakallim, bukan makna-makna, gambara-gambaran dan konsepsi-konsepsi yang ada dalam pikiran mutakkalim.
2. Makna-makna, konsepsi-konsepsi dan kata-kata yang ada dalam pikiran mutakallim hanyalah merupakan ilmu tashawwuri (ilmu yang dihasilkan lewat penggambaran dan konsepsi) dan ilmu tashdiqi (ilmu yang dicapai dari suatu penegasan dan penetapan). Mutakkalim ketika berbicara akan memandang makna, kata dan konsepsi dan akan berbicara berdasarkan hal-hal itu. Makna, kata dan konsepsi ini terkadang dibenarkan dan dipercayai oleh mutakallim dan terkadang juga tidak. Ketika mutakallim ingin menceritakan sesuatu yang bertentangan dengan keyakinannya maka dia tetap memandang hal-hal tersebut yang walaupun tidak dibenarkan oleh hatinya. Sementara dalam masalah perintah yang dia sendiri tidak berkeinginan untuk terlaksananya dan larangan yang dia sendiri tidak membenci perwujudannya, mutakallim tetap menggambarkan kata-kata perintah dan larangan dalam pikirannya. Oleh karena itu, tidak ada sesuatu selain ilmu tashawwuri dan tashdiqi yang ada dalam pikiran mutakallim sehingga bisa dikategorikan sebagai kalam.[7]
Tentang kalam nafsi, Qawsaji juga menulis, “kalam nafsi hanyalah penggambaran atas kata-kata yang terucapkan dan perolehan penggambaran ini tidak lain di alam pikiran mutakkalim.[8]
3. Kodrat berbicara dan penciptaan Huruf
Sebagian pemikir menambahkan dua makna untuk kata kalam selain makna tersebut di atas, pertama adalah sumber dan asal kalam dalam diri mutakkalim yaitu kemampuan untuk berbicara dan yang kedua adalah sifat berbicara dan menciptakan huruf dan kata-kata.
Mullah Abdullah Zanuzy menulis, “Terkadang yang dimaksud dengan kalam adalah huruf-huruf dan kata-kata itu sendiri dan makna ini telah dipahami dan digunakan secara umum dari kata kalam. Dan terkadang yang dimaksud kalam adalah berbicara (takallum) dimana terpancar huruf-huruf dan kata-kata dari seseorang. Terkadang yang dimaksud dengan kalam adalah pembicaraan, yakni sekedar penciptaan huruf dan kata-kata. Perlu ditekankan bahwa kalam pada makna yang pertama adalah tergolong perbuatan-perbuatan dan tidak termasuk sifat-sifat mutakallim. Dan kalam pada makna kedua merupakan sifat-sifat zat dan esensial mutakallim, apakah sifat ini sebagai sumber keberadaan huruf-huruf dan kata-kata yang menyatu dengan zat mutakallim itu sendiri ataukah sifat itu tidak menyatu dengan zat mutakallim. Dan makna kalam seperti ini pada hakikatnya dapat dirujukkan kepada sifat kuasa, kodrat dan kemampuan. Contoh untuk makna pertama kalam adalah Tuhan itu sendiri, karena Zat-Nya adalah sumber segala huruf-huruf dengan berbagai perbedaan tingkatan dan derajatnya. Dan untuk makna kedua kalam adalah manusia dinisbahkan dengan penciptaan huruf-huruf dan kata-kata dalam lembaran jiwanya yang dengan bantuan kodrat batinnya akan keluar dan terwujud dari rongga dada ke rongga mulutnya. Sedemikian sehingga sebelum manusia memiliki sifat hakiki dalam berbicara dan berkata-kata maka dia tidak akan bisa menjadi sumber perwujudan huruf-huruf dan kata-kata. Dan kalam dengan makna ketiga merupakan sifat perbuatan dan sifat tak hakiki karena terkait erat dengan kepenciptaan dan keperwujudan, dan sebelumnya telah dijelaskan bahwa sifat hakiki Tuhan menyatu dengan Zat-Nya dan sifat tak hakiki-Nya tidak menyatu dengan Zat-Nya.”[9]
Sebagaimana yang telah disaksikan bahwa ilmuwan ini telah menambahkan untuk kata kalam, selain maknanya yang umum digunakan, dua makna lain yaitu sumber kalam pada diri mutakallim dan sifat berbicara. Akan tetapi, kedua makna ini tidak terdapat dalam kamus-kamus bahasa. Walaupun kalam bersumber dari diri mutakallim, akan tetapi sumber kalam tersebut pada hakikatnya adalah kodrat. Demikian pula, tidak bisa dipungkiri dalam hal ini bahwa mutakallim memiliki sifat berbicara, oleh karena itu, jika kalam diartikan dan digunakan pada kedua makna tambahan tersebut maka bersifat majazi dan non-hakiki.
Perluasan Makna Kalam
Sebagian memperluas jangkauan makna kalam dengan menyatakan bahwa segala sesuatu yang menceritakan maksud yang ada di dalam jiwa seseorang disebut kalam, baik berupa kata-kata dan suara-suara, berupa petunjuk-petunjuk dengan perantaraan anggota-anggota badan, atau menunjukkan sesuatu itu sendiri, alamat-alamat dan tanda-tanda, hakikat-hakikat eksternal, lukisan dan gambar, atau kitab dan tulisan. Dikatakan bahwa kesemua itu merupakan individu-individu kalam, karena definisi kalam adalah penjelasan dan pengungkapan maksud-maksud dimana seluruh yang telah disebutkan itu bisa menjelaskan maksud dan tujuan seseorang.
Allamah Thabathabai ra menulis, “Kalam berarti penjelasan segala maksud dan tujuan dengan perantaraan suara-suara atau huruf-huruf yang maknanya bersifat penetapan belaka (tidak hakiki) dan kalam ini hanya berlaku hakiki dan benar pada manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu, kalam Ilahi tidak seperti kalam manusia yang keluar dari rongga mulut yang maknanya tidak hakiki dan bersifat kesepakatan semata, karena Tuhan itu bukanlah materi yang dapat memiliki peralatan-peralatan suara. Dan pada saat yang sama, dalam al-Quran dinisbahkan kepada Tuhan sifat berkalam dan berbicara, “Dan tidak mungkin bagi seorang manusiapun bahwa Allah Swt berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau dibelakang tabir aau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang dikehendaki. Sesungguhnya Dia maha Tinggi lagi maha bijaksana.” (Qs. Asy-Syura: 51). Sekalipun telah ternafikan kalam yang bersifat non-hakiki dari Tuhan, akan tetapi hakikat kalam itu telah dibuktikan dan tegaskan bagi Tuhan. Kalam Ilahi, walaupun bukan dari kata-kata akan tetapi pengaruhnya memiliki unsur penjelasan dan penyampaian maksud-maksud. Kalam itu bisa berbentuk seperti timbangan, liter, lampu dan lain sebagainya, dan karena benda-benda lain memiliki efek dan pengaruhnya masing-masing maka dapat digolongkan sebagai bentuk-bentuk kalam itu sendiri. Dengan demikian, telah jelas bahwa segala sesuatu yang dijadikan perantara oleh Allah Swt untuk menyampaikan dan menjelaskan maksud-maksud-Nya kepada para Nabi maka disebut kalam hakiki, akan tetapi hal ini bukan berarti bahwa Allah sendiri telah menjelaskan hakikat kalam-Nya kepada kita dan juga kita tidak bisa mengetahui secara pasti kalam hakiki tersebut.”[10]
Oleh karena itu, tidak urgen bagi kita mencari kesamaan konsepsi kalam Ilahi dengan kalam manusia yang berupa suara dan huruf.
Dalam al-Quran, makna kalam digunakan selain dari makna umumnya, seperti tentang Nabi Isa As Allah Swt berfirman, “Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya al Masih Isa putra Maryam itu adalah utudan allah dan 9 ang terjadi dengannya) kalimatNya yang disampaikanNya kepada Maryam dan (dengan Tiupan) roh daripadanya, maka berimanlah kepada Allah dan rasulNya.” (Qs. An-Nisa’: 171)
Dalam ayat tersebut Nabi Isa As merupakan salah satu dari maujud-maujud hakiki yang diperkenalkan sebagai “kalimatullah”.
Dalam ayat lain juga disebutkan sebagai berikut, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim As diuji oleh Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah Swt berfirman: sesungguhnya Aku menjadikanmu pemimpin (imam) bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: ” (Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: janjiku tidak mengenai orang-orang zalim.” (Qs. Al-Baqarah: 124)
Para mufassir menafsirkan “kalimat” tersebut di atas sebagai perintah kepada Nabi Ibrahim As untuk menyembelih anaknya Nabi Ismail As dan pelemparan dirinya ke dalam api yang berkobar, dan tidak menafsirkannya identik dengan suara-suara dan makna kalam yang umum digunakan.
Dalam ayat lain disebutkan bahwa, “Dan seandanya pohon-pohon di muka bumi menjadi pena dan laut ( menjadi tinta) ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah keringnya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha bijaksana.” (Qs. Lukman: 27)
Allamah Thabathaba’i ra menafsirkan kata “kalimat” yang disebut pada ayat di atas sebagai eksistensi-eksistensi hakiki yang terwujud dengan perantaraan perintah takwiniah-Nya (yang sebagaimana dalam ayat yang artinya, “sesungguhnya perkara-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “jadilah!”. Maka terjadilah ia.”)”[11]
Oleh karena itu, seluruh makhluk adalah “kalimatullah” dan al-Quran mengatakan bahwa seluruh maujud alam semesta adalah kalimat Allah yang bersifat takwiniah yang mencerminkan kekuasaan, keagungan, ilmu, kesempurnaan dan jamaliyah-Nya.
Filosof Agung Sabzawari menulis sebagai berikut, “Seluruh eksistensi di alam ini memiliki makna-makna sedemikian sehingga tidak membutuhkan kalam atau kata tertulis yang dapat memaknainya. Kalam adalah sesuatu yang memberikan makna, dan seluruh eksistensi mengandung makna-makna yang bersifat takwiniah yang mencerminkan kebesaran, jalaliyah, keagungan, dan jamaliyah Tuhan. Setiap eksistensi sebagai tanda dan alamat dari salah satu sifat Tuhan.”[12]
Dalam kitab Nahjul Balaghah “kalimah” ditafsirkan sebagai eksistensi-eksistensi hakiki dan maujud-maujud eksternal, sebagaimana Imam Ali As bersabda, “Ketika Allah Swt hendak menciptakan sesuatu maka hanya berfirman: “Jadilah (Kun)”. Maka terciptalah sesuatu tersebut tanpa melalui perantaraan suara yang bergetar ke telinga, karena kalam Ilahi adalah perbuatan Ilahi yakni Dia menciptakan dan mewujudkan sesuatu itu.”[13]
Seluruh eksistensi adalah kalimat Tuhan yang bersumber dari ilmu dan kodrat Ilahi, pembicaraan (takallum) Tuhan adalah penciptaan dan perwujudan sesuatu yang akan menampakkan jamaliyah, jalaliyah, kesempurnaan dan kodrat Ilahi.
Mulla shadra dengan menukil sebagian perkataaan para Arif mengatakan, “Kalam pertama yang sampai ke telinga seluruh makhluk adalah kata “Kun” yang merupakan kalimat eksistensial, dengan demikian alam tidak akan tercipta kecuali dengan perantaraan kalam, bahkan seluruh alam ini adalah bagian dari kalam Ilahi.”[14]
Dari apa yang dikatakan di atas bisa disimpulkan bahwa para filosof muslim berpendapat bahwa ada dua jenis kalam yang dinisbahkan kepada Tuhan yaitu kalam takwiniah dan kalam tasyri’iah (tadwiniah):
1. Kalam takwiniah adalah hakikat-hakikat dan maujud-maujud eksternal yang terpancar atau terwujud dari Zat Tuhan dalam tiga tingkatan: pertama adalah alam akal yang nonmateri yang diwujudkan oleh Tuhan dengan perantaraan kalimat “Kun” yang bersifat takwiniah, kalimat ini disebut kalimat sempurna. Kedua alam pengatur dan malaikat nonmateri dimana masing-masingnya telah memiliki tugas dan tanggung jawab tersendiri dan tidak pernah lalai dari tugas yang dibebankan. Ketiga alam materi dan alam natural seperti manusia, hewan, tumbuhan, bebatuan dan benda-benda lain. Segala eksistensi dan maujud di tiga alam itu adalah kalimat-kalimat dan kalam hakiki Tuhan. Setiap maujud di tiga alam tersebut akan mencerminkan kesempurnaan tak terbatas Tuhan sesuai dengan potensi, kapasitas dan keluasan wujudnya. Dengan dasar inilah, kalimat-kalimat Tuhan itu bersifat hakiki.
2. Kalam tasyri’iah dan tadwiniah. Kalam tasyri’iah identik dengan ilmu dan pengetahuan yang bersumber dari Allah Swt. Seluruh hakikat ilmiah (yang bersifat mencakup dan meliputi segala sesuatu yang lain) berada pada tingkatan Zat Tuhan yang Maha Tinggi. Tuhan mengetahui seluruh faktor-faktor kebahagian dan kesempurnaan duniawi, ukhrawi, jasmani dan rohani manusia, begitu pula Dia mengetahui seluruh sebab penderitaan dan kelemahan jiwa manusia. Segala pengetahuan ini dan pengetahuan kepada seluruh hakikat-hakikat alam eksistensi hadir dan menyatu pada Zat Tuhan dalam bentuknya yang basith[15]. Dan dari derajat gaib mutlak Tuhan terpancar maujud-maujud materi (maujud yang terendah) dengan perantaraan eksistensi-eksistensi nonmateri (eksistensi alam akal dan alam mitsal atau barzakh). Maksudnya adalah ilmu gaib Tuhan itu pertama-tama akan dipancarkan ke alam akal nonmateri dimana merupakan kalam sempurna Ilahi, dan lewat jalur inilah kemudian disampaikan kepada malaikat pembawa wahyu (Jibrail As), serta dengan perantaraan Jibril As dipancarkan ke dalam hati suci para nabi. Para nabi di alam batinya “mendengarkan” kalam Ilahi itu dengan perantaraan malaikat, dan dia mencerapnya dengan sangat jelas serta menyaksikannya dengan ilmu huduri. Akan tetapi, ilmu Tuhan yang hadir di hati para nabi dengan jalan ini yang telah mengalami penurunan (yakni dari alam akal hingga ke hati suci para nabi) sedemikian rupa itu masih dalam bentuknya yang basith yang tidak sama dengan pengetahuan umum lainnya (yakni pengetahuan lain manusia selain wahyu). Ilmu Tuhan yang dianugrahkan kepada para nabi ini disebut kalam Ilahi, akan tetapi bukan dalam bentuk suara-suara dan huruf-huruf yang bisa didengar oleh telinga lahiriah. Kalam Ilahi ini bisa didengar, namun oleh telinga batin dan hati. Ilmu yang diterima oleh para Nabi itu adalah kalam Ilahi dan merupakan cerminan dari ilmu-ilmu gaib Tuhan, namun ilmu itu turun secara sekaligus dan tidak berangsur-angsur. Kemudian kalam Ilahi yang bersifat basith dan bercahaya inilah yang terpancar ke hati dan akal para Nabi lantas ke jiwa hewani dan dari jiwa hewani ke daya khayal (imajinasi)[16]. Dari daya imajinasi ini akan mewujudkan keinginan dan kehendak manusia, kemudian akan mempengaruhi saraf-saraf dan otak serta menggerakan lidah yang dengan perantaraan hembusan udara lahirlah suara-suara. Jadi, kalam Ilahi yang basith dan bercahaya tersebutlah yang kemudian berbentuk kalimat-kalimat dan kalam yang hadir secara berangsur-angsur dan berbentuk perintah-perintah dan larangan-larangan Tuhan, pernyataan-pernyataan dan berita-berita Ilahi. Dan dengan jalan inilah, kalam Ilahi itu sampai ke telinga kaum mukmin dan setelah melewati beberapa fase lagi, ia kemudian hadir di hati suci mereka atau akan dicerap oleh kaum mukmin dengan perantaraan tulisan-tulisan, teks-teks dan lembaran-lembaran kitab. Itu adalah kalam Ilahi yang hadir dan terpancar melalui seluruh tingkatan dalam bentuk-bentuk yang beragam. Semuanya itu adalah kalam Ilahi yang terwujud dari ilmu gaib Tuhan dan yang mencerminkan Zat Suci Tuhan.
Nabi Isa As sebagai Kalam Ilahi
Dalam beberapa ayat al-Quran yang dimaksudkan dengan “kalimat” adalah Nabi Isa As, sebagaimana Allah Swt berfirman, “Kemudian Malaikat Jibril memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri bersembahyang di mihrab (katanya: “Sesungguhnya Allah menggembirakan kami dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari pengaruh hawa nafsu) dan seorang nabi dari keturunan orang-orang shaleh.” (Qs. Ali Imran: 39)
Mayoritas para mufassir mengatakan bahwa “kalimat” dalam ayat tersebut adalah Nabi Isa as.
Dalam ayat lain, Allah Swt berfirman, “(Ingatlah) ketika Malaikat berkata, “hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat dari-Nya namanya Al Masih Isa putera Maryam. Seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan salah seorang di antara orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (Qs. Ali Imran: 45)
Dalam ayat ini yang dimaksudkan dengan “kalimat” adalah Nabi Isa As dan beliau pun dikenal sebagai Kalimatullah. Dan dalam ayat lain Allah Swt berfirman, “Wahai ahli kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan janganlah kamu mengatakan terhadap allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam itu adalah ututsan Allah dan (yang terjadi dengan) kalimat-Nya yang disampaikannya kepada Maryam dan (dengan tiupan) roh daripadaNya.” (QS. AN-Nisa’: 171)
Dalam ayat ini Nabi Isa As juga diperkenalkan sebagai “kalimat” Allah, akan tetapi dengan pengertian bahwa telah diilhamkan kepada Maryam dan menjadi jelas bahwa Nabi Isa As sebagai kalimat-Nya dapat disamakan sebagaimana sebuah perkataan dan ucapan yang disampaikan kepada Maryam.
Dan di ayat lain juga Allah Swt berfirman, “Maryam berkata: “Ya Allah-ku, betapa mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah disentuh oleh seorang laki-lakipun”. Allah berfirman (dengan perantaran jibril): “Demikianlah Allah menciptakan apa yang dikehendaki menetapkan sesuatu, maka Allah hanya cukup berkata kepadanya “jadilah” lalu jadilah dia.” (QS. Ali Imran: 47)
Dalam ayat di atas dapat kita simpulkan bahwa “kalimat” yang diilhamkan kepada Maryam adalah kalimat “Kun” yang bersumber dari Allah Swt, dan berkat pengaruh dari kalimat takwiniah (yakni “Kun”) yang bersifat tidak alami ini menyebabkan hadirnya nutfah Nabi Isa As di rahim Maryam, dan Maryam pun menjadi hamil. Dalam ayat lain secara gamblang dijelaskan mengenai hal tersebut, Allah Swt berfirman, “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepada: “jadilah” seorang manusia maka jadilah dia.” (Qs. Ali Imran: 59)
Dari ayat di atas dapat dipahami bahwa Nabi Isa As dan Nabi Adam As memiliki unsur kesamaan penciptaan yang tidak melalui proses alamiah yang sebagaimana terjadi pada manusia biasa, dan kedua nabi Tuhan itu terwujud dengan perintah Allah Swt (yakni dengan kalimat “Kun”). Yang dimaksud “kalimat” yang diilhamakan kepada Maryam adalah kalimat “Kun”.
Sebenarnya seluruh eksistensi itu tercipta dan terwujud berkat perintah Allah Swt. Akan tetapi, Nabi Isa As tercipta tanpa ayah dan berkat perintah langsung Allah Swt, begitu pula Nabi Adam As yang tercipta tanpa ayah dan ibu dimana hanya dengan perintah Tuhan semata-mata.
Syaikh Ismail Haqqi dalam kitab tafsirnya menuliskan, “Nabi Isa As tercipta dengan perantaraan kalimat Allah dan dengan perintah “Kun” serta tanpa perantaraan seorang ayah, sekalipun seluruh eksistensi tercipta dengan perintah “Kun” Ilahi, akan tetapi dengan melalui perantara-perantara yakni perintah “Kun” itu pertama-tama terkait dengan ayah kemudian kepada anak. Sementara pada kasus Nabi Isa As tidak seperti itu, tetapi secara langsung terkait dengan Nabi Isa kemudian tinggal dalam rahim Maryam tanpa melalui perantaraan ayah. Dengan demikian, Nabi Isa As tercipta melalui perantaraan kalimat “Kun” dan kalimat ini adalah kalimatullah yang diilhamkan kepada Maryam, oleh sebab itulah Nabi Isa As disebut sebagai Kalimatullah.”[17]
Muhammad Rasyid Ridha dalam menafsirkan ayat tersebut menulis, “Sekalipun seluruh eksistensi terwujud dengan perantaraan kalimat takwiniah, kalimat “Kun“, itu dan hal ini tidak dikhususkan kepada Nabi Isa As saja. Akan tetapi, karena segala sesuatu secara hakiki dinisbahkan kepada sebab-sebabnya, dan dalam masalah penciptaan Nabi Isa As, sebab-sebab hakikinya tidak sebagaimana penciptaan manusia pada umumnya yakni bertemunya sperma laki-laki dengan sel telur perempuan, namun penciptaannya dinisbahkan kepada “kalimat Allah”, dan penamaan hasil penciptaan itu sebagai “kalimat” lebih bersifat penegasan akan penting persoalan itu, karena tanpa alasan yang sangat penting itu mustahil suatu “akibat” dikatakan sebagai suatu “sebab”.”[18]
Kesimpulannya, yang dimaksud dengan “kalimat” dalam ayat di atas adalah Nabi Isa As dan sebab kehadirannya adalah dengan perantaraan kalimat takwiniah Tuhan (kalimat “Kun“) dan tanpa ayah, oleh sebab itulah dalam surah an-Nisa’ ayat 171 digunakan kata ganti (dhamir) perempuan dan disebutkan “il qâ ha” (diilhamkan-nya) di mana kata gantinya kembali kepada perempuan, dan dalam ayat 45 surah Ali Imran menggunakan kata ganti untuk laki-laki dikatakan “is mu hu Al Masih” (nama-nya Al Masih) di mana kata ganti itu kembali kepada “kalimat” yang pada hakikatnya adalah dinisbahkan kepada anak laki-laki yang berada di rahim ibunya.
Allamah Thabathabai ra juga menafsirkan kata “kalimat” dalam ayat di atas sebagai Nabi Isa As.[19] Para mufasir dalam penafsiran ayat tersebut memberikan kemungkinan-kemungkinan tafsiran lain yang secara lahiriah bertolak belakang dengan ayat tersebut.[20]
“Kalimat” dalam Agama Kristen
Di dalam kitab-kitab Injil, yang dimaksud dengan “kalimah” adalah Nabi Isa As. Dalam kitab Injil Yohana tercatat sebagai berikut, “Yang pertama kali tercipta adalah kalimat, dan kalimat itu ada di sisi Allah dan Allah adalah kalimat itu sendiri. Semuanya di sisi Allah. Dan segala sesuatu berasal dari Dia dan selain Dia tiada dan segala sesuatu bersumber dari Dia. Dengan sebab Dia, kehidupan itu tercipta dan kehidupan adalah cahaya umat manusia. Nur terpancar dalam kegelapan dan kegelapan tidak menerima cahaya. Seorang manusia diutus oleh Allah yang bernama Yohana. Datang untuk memberi kesaksian terhadap cahaya sehingga umat manusia beriman kepada Cahaya, Yohana bukanlah cahaya itu, tetapi datang untuk memberi kesaksian kepada cahaya. Cahaya hakiki adalah orang yang memberikan cahaya kepada setiap orang yang datang ke alam ini, dia di alam tersebut dan alam terwujud darinya, namun alam tidak mengenalnya, dia datang kepada orang-orang khususnya akan tetapi mereka tidak menerimanya. Dia diserahkan kepada sekelompok orang yang menerimanya yakni penguasa-penguasa yang merupakan anak-anak Allah dan sebagai pemberi keimanan dengan nama dia. Mereka bukan dari darah, bukan dari daging dan bukan dari keinginan laki-laki, akan tetapi mereka di terlahirkan dari Allah dan menjadi kalimat badan, kemudian dia dihadirkan ke bumi dan kami menyaksikan bahwa kebesarannya seperti kebesaran anak tunggal dari seorang ayah yang merupakan sumber nikmat dan kebenaran. Yohana bersaksi atasnya dan berteriak kemudian berkata: inilah orang yang aku katakan akan datang setelah saya dan posisinya sebelum saya, karena dia lebih dahulu dari saya dan kita semua mengambil dari bidadarinya atau suatu nikmat yang diganti dengan nikmat lain, karena agama dan kitab diberikan kepada Nabi Musa As, dan nikmat dan kebenaran dimestikan untuk pengikut Masehi.”[21]
Para penganut agama Kristen menafsirkan “kalimat” di atas sebagai Isa Al Masih As.
Dalam kamus Kitab Muqaddas tercatat, “yang dimaksud kalimat adalah Tuhan kita, Isa Al Masih.”[22] Mereka menafsirkan ungkapan-ungkapan Injil ini supaya sesuai dengan keyakinan trinitas.
Akan tetapi, dengan meneliti dan mencermati ungkapan dalam kitab Injil, terdapat kemungkinan bahwa yang dimaksud dengan “kalimat” adalah sama dengan apa yang dikatakan oleh al-Quran tentangnya dimana dinisbahkan kepada Nabi Isa As. Bisa disimpulkan bahwa yang dimaksud “kalimat” adalah perkara takwiniah dan penciptaan Allah Swt yaitu kalimat “Kun“. Oleh karena itu, “kalimat” berarti menciptakan dan mewujudkan sesuatu dimana termasuk salah satu sifat Tuhan sebelum segala sesuatu tercipta dan menjadi sumber bagi seluruh eksistensi. Dan kalimat perintah “Kun” inilah yang terjadi pada Nabi Isa As, karena Maryam mengandung Nabi Isa As tidak berdasarkan proses alami yakni tidak dengan perantaraan seorang suami, akan tetapi dengan suatu mukjizat Ilahi dan hanya dengan kalimat perintah “Kun” dari Tuhan, oleh karena itulah disebut sebagai “kalimat Ilahi” atau “Kalimatullah”.[www.wisdoms4all.com]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar